Info Sekolah
Friday, 09 Dec 2022
  • Selamat Datang di Website Resmi SMK Muhammadiyah 3 Weleri

FILSAFAT PENDIDIKAN KI HAJAR DEWANTARA

Diterbitkan : - Kategori : Muga News


“Pendidikan diartikan sebagai tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak; menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat”
(Ki Hajar Dewantara)

Menjadi seorang guru adalah anugerah yang sangat terindah, guru adalah profesi yang sangat mulia, yang memiliki keunikan tersendiri dalam mengembang tugas dan amanah tersebut. Sebagai seorang guru terkadang perlakuan kepada siswa dengan tuntutan tugas, nilai dan lebih berfokus kepada intelektual atau kognitifnya saja, sehingga terkadang anak tidak memiliki kebebasan bahkan tertekan dengan segala pola pembelajaran yang membuat mereka tidak berkembang sesuai dengan kodrat dan segala potensi yang dimilikinya. Akhirnya anak tersebut tidak bersemangat atau kurang meminati mata pelajaran tertentu atau semangat untuk belajarnya menjadi berkurang ataupun melakukan hal-hal yang bertentangan dengan segala aturan yang telah ditetapkan. Kondisi tersebut sangat dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam menerapkan pola pembelajaran yang kreatif, inovasi, menyenangkan dan berpusat kepada peserta didik (Student Centre).

Dalam proses pembelajaran seorang guru harus terus belajar, mengembangkan diri dan mengasah kompetensinya dengan berbagai hal, baik secara individu, komunitas pembelajar ataupun memanfaatkan teknologi dan informasi serta mengikuti program yang telah dirilis oleh Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, salah satunya adalah “Guru Penggerak. Guru penggerak merupakan episode kelima dari rangkaian kebijakan Merdeka Belajar. Guru penggerak ini bertujuan untuk menyiapkan para pemimpin pendidikan Indonesia masa depan, yang mampu mendorong tumbuh kembang murid secara holistik; aktif dan proaktif dalam mengembangkan guru di sekitarnya untuk mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat kepada murid serta menjadi teladan dan agen transformasi ekosistem pendidikan untuk mewujudkan profil pelajar pancasila.

Proses Pendidikan Guru penggerak ini, khususnya pada modul 1.1 kegiatan pembelajarannya difokuskan kepada Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara, sebagai bapak Pendidikan Indonesia yang mempelopori cikal bakal kemerdekaan pendidikan di Indonesia yang telah berhasil mendirikan sebuah lembaga pendidikan yaitu “Perguruan Taman Siswa”

Dalam dunia pendidikan semboyang “ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”. di depan memberi contoh atau menjadi panutan, di tengah membangun semangat atau ide, dari belakang memberikan dorongan. seorang guru harus memberikan contoh atau teladan yang baik kepada peserta didik, sesama guru dan seluruh warga sekolah dan masyarakat pada umumnya. dari tengah seorang pendidik harus mampu membangun semangat, menciptakan ide atau berkarya dan berinovasi di lingkungan tempat kerjanya atau di tempat tinggalnya. selanjutnya dari belakang, seorang pendidik harus bisa memberikan dorongan, motivasi, arahan dan penyemangat kepada seluruh warga sekolah dan lingkungan tempat tinggalnya. konsep selanjutnya adalah sekolah itu dijadikan sebagai taman siswa; artinya sekolah tersebut harus bisa membuat rasa aman, nyaman dan menyenangkan bagi peserta didik, mengembangkan segala potensi yang dimiliki peserta didik tersebut, menjadikan sekolah itu sebagai rumah kedua mereka dan gurunya adalah orang tua kedua mereka selama berada disekolah dan teman-temannya adalah sebagai saudaranya atau mereke adalah kakak beradik.

Pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan, adalah kodrat keadaan yang terdiri dari kodrat alam dan jaman. Ki Hajar Dewantara menjelaskan bahwa dasar pendidikan anak berhubungan dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam berkaitan dengan “sifat” dan “bentuk” lingkungan di mana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan “isi” dan “irama” . Kedua kodrat ini berkaitan dengan dengan nilai-nilai dan sifat-sifat kemanusiaan peserta didik. Ki Hajar Dewantara hendak mengingatkan pendidik bahwa pendidikan anak sejatinya melihat kodrat diri anak dengan selalu berhubungan dengan kodrat zaman. Bila melihat dari kodrat zaman saat ini, pendidikan global menekankan pada kemampuan anak untuk memiliki keterampilan abad 21 dengan melihat kodrat anak indonesia sesungguhnya. Ki Hajar Dewantara mengingatkan juga bahwa pengaruh dari luar tetap harus disaring dengan tetap mengutamakan kearifan lokal budaya indonesia. Oleh sebab itu, isi dan irama yang dimaksudkan oleh Ki Hajar Dewantara adalah muatan atau konten pengetahuan yang diadopsi sejatinya tidak bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Ki Hajar Dewantara menegaskan juga bahwa didiklah anak-anak dengan cara yang sesuai dengan tuntutan alam dan zamannya sendiri.

Selanjutnya konsep pemikiran selanjutnya adalah; asas Tri – Kon; yaitu Kontinuitas artinya kita harus bergerak dan berpikir maju ke depan tanpa melupakan sejarah dan tidak boleh lupa akan akar nilai budaya yang hakiki yang dimiliki oleh bangsa indonesia. Sebagai seorang pendidik harus memperkenalkan sejarah dan budaya bangsa indonesia, kita perlu belajar dari sejarah untuk kemajuan pendidikan indonesia dimasa yang akan datang dan tumbuh kembangnya peserta didik dimasa yang akan datang. Konvergensi, artinya pendidikan itu harus berasaskan memanusiakan manusia dan memperkuat nilai kemanusiaan. Seorang pendidik dan seluruh warga sekolah harus menanamkan nilai-nilai kemanusiaan kepada peserta didik sehingga melahirkan peserta didik yang pemikirannya penuh dengan kebijaksanaan dalam menyikapi kehidupan dimasa yang akan datang. Konsentris. Pendidikan harus menghargai keragaman dan memerdekakan pembelajaran, setiap peserta didik memiliki keunikan masing-masing. Setiap peserta didik memiliki potensi yang mereka bawa sejak lahir. Seorang pendidik dan seluruh warga sekolah harus mampu mengidentifikasi dan membaca keunikan dan potensi tersebut, sehingga murid dapat merasakan konsep merdeka belajar.

Konsep pemikiran selanjutnya adalah, dalam melakukan prinsip perubahan adalah budi pekerti: budi itu mencakup cipta, rasa dan karsa. Dalam mengolah cipta atau pikiran untuk menajamkan pikiran. Diharapkan kepada peserta didik untuk menfungsikan akal dan pikirannya, memiliki mimpi, harapan dan cita-cita, berpikir untuk selalu berbuat yang terbaik dan memberikan manfaat kepada orang lain dalam mengolah rasa atau perasaan untuk menghaluskan rasa. Seorang pendidik harus mampu menumbuhkan sikap empati, simpati atau peduli kepada peserta didik dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam mengolah karsa atau kemauan untuk memperkuat semangat atau kemauan. Diharapkan kepada peserta didik untuk selalu memiliki semangat juang dalam belajar, berkarya, berkreasi dan berinovasi dalam mencapai cita-citanya untuk kehidupannya dimasa yang akan datang.

Selanjutnya pekerti atau tenaga, dengan olah raga/ olah tenaga untuk memperkuat jasmani. Sehingga peserta didik dalam mengikuti pembelajaran sudah siap lahir dan bathin sudah sehat dan siap jasmani dan rohaninya.

Konsep selanjutnya yaitu; Dalam proses ‘menuntun’ anak diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar. Dengan tetap mengedepankan sikap, perilaku dan karakter yang mencerminkan sebagai seorang peserta didik dengan nilai-nilai dan sifat-sifat kemanusiaan yang dimilikinya.

Konsep pemikiran Ki Hajar Dewantara sangat menginspirasi dan menambah wawasan pengetahuan dan semangat saya untuk segera melakukan perubahan dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari khusunya di lingkungan sekolah. Kegiatan yang akan dilakukan agar proses pembelajaran yang mencerminkan pemikiran Ki Hajar Dewantara dapat terwujud dengan menerapkan merdeka belajar, kemerdekaan belajar yang memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk senyaman mungkin dalam suasana bahagia tanpa adanya rasa tertekan. Merdeka belajar yang berorientasi dan berpusat kepada peserta didik dengan pendekatan pendidikan yang holistik.
Pendidikan holistik adalah pendidikan untuk membangun tumbuh kembang anak dengan mengembangkan segala potensi yang ada pada diri anak secara seimbang yang nantinya menghasilkan kebijaksanaan dan nilai-nilai kemanusiaan sehingga dapat melahirkan generasi bangsa yang merupakan cikal bakal dari Profil Pelajar Pancasila yang Beriman dan Bertakwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Berakhlak Mulia: Pelajar Indonesia yang berakhlak mulia adalah pelajar yang berakhlak dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, pelajar yang memahami ajaran agama dan kepercayaannya serta menerapkan pemahaman tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Mandiri: Pelajar Indonesia merupakan pelajar mandiri, yaitu pelajar yang bertanggung jawab atas proses dan hasil belajarnya dan memiliki kesadaran akan diri dan sistuasi yang dihadainya. Bernalar Kritis: Pelajar Indonesia yang mampu secara objektif memproses informasi, baik kualitatif maupun kuantitatif, membangun keterkaitan antara berbagai informasi, menganalisis informasi, mengevaluasi dan menyimpulkannya. Gotong Royong: Pelajar Indonesia yang memiliki kemampuan untuk melakukan kegiatan secara bersama-sama, berkolaborasi dengan suka rela agar kegiatan yang dikerjakan dapat berjalan lancar, mudah dan ringan. Berkebinekaan Global: Pelajar Indonesia mempertahankan budaya luhur, lokalitas dan identitasnya dan tetap berpikiran terbuka dalam berinteraksi dengan budaya lain, sehingga menumbuhkan rasa saling menghargai dan kemungkinan terbentuknya budaya baru yang positif dan tidak bertentangan dengan budaya luhur bangsa.
SEKIAN DAN TERIMA KASIH
SALAM GURU PENGGERAK
MERDEKA BELAJAR
INDONESIA MAJU

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar